Tawa Tak Sua


Dulu buana, ke mana pun jumpa
Kini menjelma mega-mega, berhambur tak tahu ke mana
Kau cari di mana?
Samudera saja gulana, apa lagi gerimis di jendela?
Yang kau jumpa hanyalah hahaha

Advertisements

Kau adalah Drama

Tinggallah aku, seorang diri yang tak tahu
Tinggallah aku, seorang diri yang terpaku
Kalap-kalap aku terbangun dari rentetan klip drama
Mengguyur diri dengan kenyataan tiada tara
Wah! Iya, wah!
Tampaknya dunia sedang melawak
Gelak tawanya tersisa di telingaku tak mau pergi

Dia berkata begini, dia yang lain berkata begini, mereka berkata begini
Oh, jadi begitu?
Rasanya aku ingin tertawa bersama dunia,
Aku ingin menunjukkan kalau aku juga bisa tertawa, Hahaha
Tapi kuringkus semua
Telak yang baru saja sungguh tak mengizinkanku menganga

Apa semua ini?
Kukira drama ini sederhana,
kukira ruas jariku mampu menghitung pemain drama
Nyatanya, pemikiranku yang terlalu sederhana
bukan alur dramanya, apalagi pemainnya

Aku bisa apa?
Sedangkan waktu terus berjalan tak tahu di mana ujungnya
Mereka pergi, katanya akan kembali, tapi entah jadi atau tak jadi
Satu persatu tak sengaja kukuliti sendiri
Semua fakta menguak dengan sendiri
Tak ada hak kecewa, marah, ataupun bertanya
Yang bisa kulakukan adalah menatapnya
Meyakinkan mereka bahwa aku tetaplah orang bodoh
seperti sedia kala, tak tahu drama yang mereka cipta
Menumpuk segala dengan paksa, membenamkan sedalam yang kubisa

Biarlah semesta mencipta sejarahnya
Meneruskan cerita yang tahu kapan ujungnya
Aku menunggu tapi juga tak menunggu
Aku bertanya tapi juga tak bertanya
Biarlah mereka berdamai dengan dunianya
Mencipta gelak tawa sepanjang harinya
Aku tak akan berdiri di depannya
Hingga waktu yang memaksa kita untuk benar-benar berjumpa
Untuk kau yang pernah ada dan mengaku tiada,
Kau siapa?

Bhineka atau Tiada

Histori ranah bhineka
Membisikkan cuaca kedamaian
dalam nadi Bumi Pertiwi, dalam raga insani
Meluluhkan siapa saja penjajah jati diri bangsa ini
Tak lelah tak henti, Tak kalap tak mati
suara Garuda bergema dalam diri
menyuarakan kayanya bangsa ini

Tak ada yang lebih elok, tak ada yang lebih benderang
dari rona persatuan bangsa ini
Dalam kerangka bhineka yang pendahulu cipta,
Di setiap Merah Putih yang ditiup angin penuh romansa,
Selalu ada mantra persaudaraan dan keutuhan
di tanah hasil jerih payah melawan penjajah

Suku, adat, agama dan bahasa yang tak dapat dihitung jari,
tetaplah membawa kesejukan di setiap penjuru Nusantara
Budaya yang mengakar dalam diri bangsa Indonesia
mengusir segala cerca dan goncangan yang menerpa

Kita tetaplah kita
Bangsa dengan keragaman yang tak sekalipun melemahkan kita
Yang tetap menggelora mengabarkan persatuan dan cinta
Menjaganya adalah tugas kita
Menjunjungya adalah kebanggaan kita
Kita bhineka atau tiada

Talk to The Wind

Kalaulah seonggok memori kau cipta, terhamburlah ke buana, kala itu jua.
Kalaulah ingin bersua, ke mana ku jumpa?
Sedangkan, kau hanya berhambur di sekeliling cakrawala.
Berbaur dengan lainnya, terlihat sama. Berbau fana. Tak tahu yang mana.
Atau, mungkin memang tak pernah ada. Bisa saja. Mana kutahu?
Kau, mana bisa ku indera. Aku, digdaya apa?

Kau ini, apa?

Fri, Sept 14th 2018. 12.35 a.m

Gratis Merindu

Kepada kau, kawan lama tak sua
Bukan karib, bukan sohib
Bukan kekasih, bukan pula mantan kekasih
Kepada kalian, tak peduli kadar ikatan

Tiba-tiba saja aku meradang
Menggejala tanpa alasan
Tapi, aku sungkan
Mengingat kau, kini jauh di batas pandang
Lidahku kelu tuk sekadar mengabarkan
Mengingat kita, tak lagi berdekatan

Ada sedikit ketakutan
Manakala ku curahkan peraduan
Kehadiranku mungkin bukan harapan
Sebuah sapa bisa saja mengusik kedamaian

Tapi, ketahuilah kawan
Aku tak pernah memesan jamuan kerinduan
Ia datang tanpa tawaran, tanpa paksaan
Aku pun tak mau merasakan
Namun, karena merindu itu tak berbayar
Maka, akan ku puas-puaskan

Mon, Sept 17th 2018. 10.20 p.m

Teruntuk Kau, Pengabai Perasaan

Kau berlagak paling dibutuhkan
Apakah satu kata darimu itu seharga berlian?
Hingga menjawab saja enggan

Kau pilih-pilih kawan, bak HRD perusahaan
Memang, tampangmu itu rupawan
Popularitasmu tak tertandingkan
Tak heran, kehadiranmu diagung-agungkan
Tapi, percuma saja, kau buta keadaan

Di sana, kau dengan haha hihi mengumbar senyuman
Di sini, kau dengan haha hihi tak mengacuhkan
Tak sadarkah melukai perasaan?

Ku kira kau pendiam, terlihat meyakinkan
Nyatanya mengecewakan
Aku tak tahan melihat kawan kesakitan
Meminta bantuan, kau nomor sekiankan
Menunggu dengan sabar, kau tinggalkan
Mengajak kebaikan, kau tolak tak sopan
Heran!

Dunia ini pilihan, kebaikan atau keburukan
Mengapa kau pilih menyakiti perasaan?
Sedangkan, menyenangkan orang mampu kau lakukan
Gemar kok memanen musuh, memanen kawan, kapan?

Fri, Sept 21th 2018. 11.48 p.m.